Mengenai Saya

Foto saya
Barabai, Kalimantan Selatan, Indonesia

Sabtu, 16 Januari 2010

Article

Bahasa Inggris? Siapa Takut?


Negosiasi gagal karena salah paham dengan calon mitra asing. Pekerjaan tertunda karena komunikasi yang terbata-bata dengan klien dari negeri seberang. Mengalami kerugian dari kontrak kerja yang tidak sepenuhnya dipahami. Lamaran kerja di sebuah perusahaan asing ditolak karena kemampuan berbahasa Inggris yang kurang. Kesempatan kerja sama dengan perusahaan kelas internasional batal akibat tidak bisa menyediakan tenaga kerja yang bisa berbahasa Inggris.
Apakah Anda pernah mengalami salah satu dari kejadian di atas? Anda tidak sendirian. Banyak orang yang mengalami masalah dalam pekerjaan bukan karena tidak ada kemampuan atau kesempatan, melainkan hanya karena kemampuan bahasa Inggris yang kurang. Di dunia usaha yang makin mengglobal, semakin banyak perusahaan lokal Indonesia yang masuk ke pasar dunia, dan semakin banyak perusahaan internasional yang masuk ke pasar lokal, penggunaan bahasa Inggris yang menjadi bahasa ”bisnis” makin dirasakan sebagai suatu keharusan. Masalahnya, jumlah pelaku bisnis di Indonesia yang sudah nyaman menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari dalam bisnis masih terbatas.
GAYA BELAJAR
Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing.
PRINSIP BELAJAR YANG EFEKTIF
Belajar bahasa Inggris tidak sulit, tetapi juga tidak semudah membalik telapak tangan. Yang penting adalah kemauan dan ketekunan. Pakar pembelajaran Bahasa Inggris, H. Douglas Brown mengemukan lima prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif berikut ini.

”Way of life”. Jika kita belajar bahasa Inggris di negeri tempat bahasa tersebut digunakan sebagai Bahasa Ibu, umumnya kita akan lebih cepat menguasai bahasa tersebut karena kita setiap hari dikelilingi oleh bahasa Inggris, dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur. Hal ini disebabkan karena bahasa Inggris telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Demikian pula yang harus kita lakukan di Indonesia, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan efektif: kita harus menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kehidupan kita. Artinya, kita harus mencoba menggunakannya setiap hari di mana mungkin. Untuk itu, kita bisa membaca, mendengar, ataupun berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada setiap kesempatan yang kita temui atau yang bisa kita ciptakan. Misalnya, kita bisa menyisihkan waktu tiap hari untuk baca satu artikel bahasa Inggris dalam satu hari. Kalau satu artikel belum mampu, satu paragraf atau satu kalimat per hari pun tidak jadi masalah. Kita jadikan kalimat tersebut kalimat kita hari itu, dan kita gunakan kalimat tersebut dalam segala kesempatan yang mungkin ada dalam hari itu.

Atau, kita bisa juga meluangkan waktu untuk mendengarkan segala sesuatu dalam bahasa Inggris (lagu, berita, atau kaset-kaset berisi pembicaraan dalam bahasa Inggris) untuk membiasakan telinga kita terhadap bahasa asing tersebut. Yang bisa kita lakukan antara lain adalah mendengarkan kaset-kaset (baik lagu, pidato, presentasi, atau kaset pembelajaran dalam bahasa Inggris) di mobil sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya. Kita juga bisa mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris (menulis memo, surat pendek, ataupun menulis rencana kerja yang akan kita lakukan selama seminggu atau untuk hari berikutnya). Pada prinsipnya, kelilingi hidup kita dengan bahasa Inggris yang topik-topiknya kita senangi atau kita butuhkan.

”Total commitment”. Untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita, kita harus memiliki komitmen untuk melibatkan bahasa Inggris dalam hidup kita secara fisik, secara mental, dan secara emosional. Secara fisik, kita bisa mencoba mendengar, membaca, menulis, dan melatih pengucapan dalam bahasa Inggris, terus-menerus dan berulang-ulang. Secara mental atau intelektual, kita bisa mencoba berpikir dalam bahasa Inggris setiap kali kita menggunakan bahasa Inggris.

Misalnya, dalam memahami bahasa Inggris, jangan kata per kata, tapi arti secara keseluruhan. Kita bisa mencoba mengenali beberapa ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti yang kurang lebih sama, misalnya: How’re you?, How’s life?, How’s business? (jangan terpaku pada satu ungkapan saja). Dan, yang paling penting adalah keterlibatan kita secara emosional dengan bahasa Inggris, yaitu kita perlu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar bahasa Inggris, dan kita perlu mencari ”hal-hal positif” yang bisa kita nikmati, ataupun yang bisa memberikan kita keuntungan jika kita mampu menguasai bahasa Inggris. Hal-hal ini akan memberikan energi yang luar biasa pada kita untuk tetap bersemangat belajar bahasa Inggris. Ketiga aspek (fisik, mental, dan emosional) ini harus kita libatkan secara total dalam proses belajar kita, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan lebih efektif.

”Trying”. Belajar bahasa adalah seperti belajar naik sepeda atau belajar menyetir mobil. Kita tidak bisa hanya membaca dan memahami ”buku manual” saja, tetapi kita harus mencoba menggunakannya. Pada tahap pembelajaran (tahap percobaan), sangat wajar jika kita melakukan kesalahan. Yang penting adalah mengetahui kesalahan yang kita lakukan dan memperbaikinya di kesempatan yang berikutnya. Akan lebih baik lagi jika pada saat mencoba kita mempunyai guru yang bisa memberitahu kita kesalahan yang kita lakukan. Guru tidak harus guru formal di sekolah atau kursus bahasa Inggris. Guru bisa saja sebuah kaset yang bisa kita dengarkan dan kita bandingkan dengan ucapan kita, sebuah buku pelajaran yang bisa kita baca dan cek jawabannya, atau bisa juga kenalan, ataupun kerabat yang bisa membantu kita jika kita ada masalah atau ada hal-hal yang ingin kita tanyakan. Kita tidak usah malu bertanya, dan tidak usah takut melakukan kesalahan. Dari pertanyaan yang kita ajukan dan dari kesalahan yang kita lakukan, kita bisa belajar banyak.

”Beyond class activities”. Jika kita belajar bahasa Inggris secara formal (di kelas, di kursus), biasanya jam-jam belajarnya terbatas: empat jam seminggu, enam jam seminggu ataupun delapan jam seminggu. Yang pasti jam belajar di kelas ini tentunya sangat terbatas. Agar belajar bisa lebih efektif, kita harus menciptakan kesempatan untuk ”belajar” juga di luar jam-jam belajar di kelas: berdiskusi dengan teman, mengunjungi websites yang menawarkan pembelajaran bahasa Inggris gratis, ataupun berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan teman-teman atau native speakers (baik melalui surat, email, ataupun percakapan langsung). Kita bisa juga mencoba membaca koran, majalah, buku-buku teks, mendengarkan radio, lagu, ataupun menonton acara-acara dan film. Agar proses belajar bisa lebih menarik, pilihlah topik-topik yang sesuai dengan minat kita, kebutuhan kita, ataupun yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang kita tekuni.

”Strategies”. Jika komitmen, keberanian mencoba, dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian hidup telah kita terapkan, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi belajar yang tepat untuk menunjang proses belajar kita. Strategi ini bisa kita kembangkan dan kita sesuaikan dengan kepribadian dan gaya belajar kita masing-masing. Ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan ”cue-cards”, yaitu kartu-kartu kecil yang bertuliskan ungkapan atau kata-kata yang ingin kita kuasai disertai dengan contoh kalimat yang bisa menggunakan kata-kata tersebut. Kartu ini bisa kita bawa kemana pun kita pergi. Kapan pun ada kesempatan (pada saat menunggu taksi, menunggu makan siang disajikan, ataupun pada saat berada dalam kendaran yang sedang terjebak kemacetan), kita bisa mengambil kartu ini dan membacanya serta mencoba melakukan improvisasi dengan kata-kata baru dalam struktur kalimat yang sama. Ada pula orang yang lebih mudah belajar dengan langsung berkomunikasi lisan dengan orang lain atau native speakers. Dari komunikasi ini mereka bertanya, mendengar, dan memperbaiki ucapan dan meningkatkan kosa kata mereka dengan gaya belajar kita.

”Auditory learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi, ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya.

”Visual learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar ”visual”. Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. Kita bisa juga membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering kita temui dalam melakukan pekerjaan kita.

Untuk mencoba memahami suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual: ”flow chart”, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya.

”Kinesthetic learners”. Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse), sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut.

Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar (misalnya auditory dan visual, atau visual dan kinesthetic). Apa pun gaya belajar kita, jika kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.

The first time entering to the university

ngomongin masalah rasa,,pertama masuk tuh,,byasa z,kdd yang aneh,,,,tpi cman sedikit nervous plus deg-degan coz bakalan nemuin macam-macam karakter orang-orang yang notabenenya tuh dari luar,,artinya yang SMA nya tuh di luar pondok,,,owh ya,,plngan bingung pke baju apa,,,batik,sasirangan or hem,,,tpi kd jd masalah pank asal sopan z...
jurusan bahasa inggris,,ngeri jg sebenarnya dengar,tapi,,asyik jw sklenya..ngerasa paling ga bisa tuh wajar,dan semuanya tuh butuh proses.ya kan

Kamis, 17 Desember 2009

Banker dan Si miskin....assignment of IT

Si Banker dan Si miskin

Dahulu kala hiduplah seorang pengemis dan seorang banker. Yang pertama adalah miskin sebagai yang kedua kaya. Jadi, tak terelakkan bahwa orang kaya akan lebih bahagia daripada orang miskin. Tetapi sifat-sifat mereka yang berlawanan, bagi orang miskin bahagia sedangkan bankir tidak. Bankir kesal dari kenyataan bahwa sementara ia berguling-guling di tempat tidur pada malam hari, para orang miskin tidur dengan damai dan selalu terjaga beristirahat dan penuh energi.

Suatu hari bankir tak tahan lagi. Dia memutuskan untuk mencari tahu mengapa orang miskin adalah orang bahagia meskipun dia kemiskinan. Jadi ia memanggil dia ke rumahnya dan menanyakan pendapatan tahunan karena ia percaya bahwa kebahagiaan hanya dapat diukur dalam hal kekayaan.

"Saya tidak menghitung dengan baik, juga tidak aku benar-benar peduli. Aku hidup setiap hari seperti itu datang dan tidak pernah khawatir tentang berikutnya."

"Baiklah, kalau begitu, katakan saja padaku berapa banyak yang Anda dapatkan dalam satu hari," desak orang kaya.

"Aku mendapatkan apa yang saya butuhkan. Dan bahkan yang akan terlalu banyak kalau bukan untuk semua hari Minggu dan hari libur ketika saya harus menutup toko saya."

Bankir menyukai orang miskin. Ia ingin berterima kasih padanya untuk datang ke rumahnya, jadi dia harus mempresentasikan orang miskin dengan sekantong seratus koin emas.

Sekarang, kepada orang miskin koin tersebut, yang berarti begitu sedikit ke bankir, tampaknya keberuntungan yang besar. Dia memutuskan untuk menyembunyikan tas, sehingga ia akan memiliki uang jika pernah ia harus membutuhkannya. Jadi, ketika ia kembali ke rumahnya, ia menggali lubang besar di sudut terpencil kebun, melemparkan tas ke dalamnya, dan menutupinya dengan tanah.

Tapi dari hari itu, orang miskin hidupnya berubah-ia mulai khawatir tentang keamanan uangnya. Setiap malam dia tidur sedikit kurang, dan setiap kali dia mendengar suara sedikit pun, ia menjadi cemas tentang keselamatan dari koin.

Akhirnya, ia dapat menanggung ketidak bahagiaan tidak lagi. Dia pergi ke kebun, menggali koin dan mengembalikannya ke bankir.

Yang miskin telah belajar sebuah pelajaran penting, dan demikian juga bankir.

the Tidy Drawer.........assignment of IT...

The Tidy Drawer

One Saturday morning Abby's Mum came upstairs to see Abby in her bedroom. Or tried to. There was so much mess on the floor she could only poke her head around the door. Abby sat in the middle of it all reading a book.
"What a tip," Mum said. "You need to have a clear up in here."
"Why?" Abby asked.
"Why?" Mum repeated. "Because things get broken or lost when they're all willy-nilly like this. Come on, have a tidy up now."
"But I'm very busy," Abby argued, "and it's boring on my own. Can't you help me?"
"No I can't, I'm busy too. But I'll give you extra pocket money if you do a good job."

When Mum came back later all the toys and clothes and books had disappeared.
"I'm impressed," said Mum. "But I'll inspect it properly later."
"It was easy," said Abby. "Can I have my extra pocket money now?"
"All right. Get it out of my change purse. It's in the kitchen tidy drawer."

In the kitchen Abby went over to the dresser and pulled open the tidy drawer. She hunted for the purse.
"Any luck?" Mum asked.
Abby shook her head.
"It must be lurking at the bottom," Mum said. "Let's have a proper look."
She pulled the drawer out and carried it over to the table. Abby kneeled up on a chair to look inside. There were lots of boring things like staplers and string but there were lots of interesting things as well.
"What's this?" Abby asked, holding up a plastic bottle full of red liquid. Mum laughed.
"Fake blood, from a Hallowe'en party years ago. Your Dad and I took you to that, dressed up as a baby vampire. You were really scary."
"I don't remember that."
Abby carried on looking through the drawer. She found some vampire teeth, white face paint, plastic witchy nails and hair gel. Mum pulled out a glittery hair band. It had springs with wobbly balls on the top that flashed disco colours. She put it on her head while she carried on looking through the drawer. Abby found some sparkly hair elastics to match the hair band. She made her Mum put lots of little bunches all over her head so she looked really silly.
"I remember this," Abby said as she pulled out a plastic bag. "This is from my pirate party." Inside there was a black, false moustache and some big gold earrings.
She peeled the sticky backing off the false moustache and stuck it on Mum's top lip then found a paint brush in the drawer and painted a fierce red scar down her cheek using the fake blood. Mum clipped on the pirate earrings.
"Come here," Mum said and smeared white face paint all over Abby's face. She dribbled the fake blood so it looked as if it was coming out of Abby's eyes and mouth. She put gel all over Abby's hair and made it stand up into weird, pointy shapes. Abby put in the vampire teeth and slipped on the witchy fingers. She made scary noises at Wow-Wow the cat. He ignored her and carried on washing himself on the seat next to her.
"Wotch thish?" Abby asked, holding up a flat rubbery thing. It was hard to speak through the vampire teeth.
"It's a whoopee cushion," Mum said. "You blow it up and sit on it. It makes rude noises." She blew it up and gave it to Abby.
Suddenly there was a knock at the back door. A voice called out. "Hello, it's only me. I've let myself in."
It was their nosy neighbour, Mrs Hislop. She was always interfering and complaining.
Mrs Hislop entered the kitchen. Her mouth dropped open.
"We're jush wooking for the change pursh," Abby explained.
"Yes, well, er," Mrs Hislop said, "I just wanted a word about your fence. Some of it's blown down on my side."
At that moment Abby sat on the whoopee cushion and let out an enormous, rude noise. Wow-Wow jumped off his seat and ran away.
"Well!" said Mrs. Hislop and hurried from the room and out of the house.
When the door banged shut Abby and Mum burst out laughing until Mum's moustache hung on by a whisker and Abby's vampire teeth dropped out.
Abby came to sit on her Mum's knee.
"It's fun doing this together," she said.
"Maybe. But we still haven't found the change purse." They both looked at the enormous heap of things spread over the kitchen table.
"Well, you know things will get lost, or broken, when they're all willy nilly," Abby said.
"You cheeky monkey!" Mum laughed. "But what shall I do with it all?"
"I know, it's easy," Abby said and began to scoop everything off the table into her arms. She dumped it all back in the kitchen drawer.
Mum looked at her suspiciously.
"Let's go and inspect your bedroom shall we."
Abby followed her upstairs and into her bedroom. Wow-Wow was sitting in front of her fish tank looking hungrily at the goldfish. He dashed under the bed when he saw Mum and Abby. Mum kneeled down and lifted the bed cover to get him out. Underneath were heaps of Abby's toys, books, tapes, clothes and shoes, empty plastic cups and wrappers and a half-eaten sandwich on a plate.
"Abby! What's all this?"
"It's my tidy drawer," Abby said. She wrapped her arms around her Mum and gave her a kiss. "Let's sort this one out together now."

Sabtu, 14 November 2009

Tentang Saya

Namaku Ahmad Rizqi Zaidi
silakan panggil aku Rizqi or Zaidi,aku lahir di Barabai 09 Agustus 1990
eh...alamatku skarang aku tinggalnya di Kec. Ilung, tptx di awang baru....
riwayat pendidikanku.....MI di Baladan amina Landasan Ulin Barat, Mts Diniyah Barabai, Ma Darul Istiqamah barabai, and sekarang aku mahasiswa STKIP PGRI banjarmasin...klonya gomongin buku,aku sneng bc jg lo...hehe, aku tc senengnya bc bku motivasi,tapi kadang-kadang sk jg bc fiksi, novel smpe komik....bcara msalah sport,,bola tc kaya'nya ga bakalan hilang dari daftar hoby,,tpi aku jarang maen bola...klonya nonton bola seneng bgt...

eh....Blog ini pertama kali aku bikin,jadi klo seandainya banyak terdapat kesalahan ...ya,,dimaklumi za gen lah....namanya jg bljar

untuk kritikan dan saran kirim z k' rizqi.zaidi@gmail.com


ok...thank so much b4